43. AL KARIM (Dzat Yang Maha Mulia) Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Mulia, karena apabila Dia berjanji pasti akan ditepati dan apabila memberi pasti melebihi harapan yang meminta. Dan janji-janji Allah Ta’ala ini tercantum didalam Al Qur’an. Diantaranya adalah : “Barang siapa yang bertaqwa akan diberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka dan barang siapa bertawakkal akan dicukupi segala kebutuhannya. Barang siapa yang beriman dan beramal sholeh akan masuk syurga dan barang siapa yang kafir dan bergelimang dosa akan masuk neraka”. Firman Allah Ta’ala dalam surat Ath Thalaq (65) : 2-3 2. Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah Ta’ala. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah Ta’ala niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, 3. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah Ta'ala, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah Ta’ala melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. Sebagai seorang hamba jangan sekali-kali kita menuntut Allah Ta’ala agar segera memenuhi janjiNya. Yang penting laksanakan saja tugas kita sebagai seorang hamba, yaitu beriman, bertaqwa dan bertawakkal kepada-Nya, sedangkan masalah kapan janji Allah Ta’ala akan ditepati serahkanlah semuanya kepada Allah Ta'ala. Dan hendaknya kita yakin bahwa Allah Ta’ala pasti akan menepatinya. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak percaya dengan janji-janji Allah Ta’ala. Padahal Allah Ta’ala adalah Tuhan yang Maha Mulia yang apabila berjanji pasti akan Dia tepati. Tidak sama seperti manusia yang sering kali berjanji tetapi tidak dia tepati. Allah Ta’ala juga selalu memberi melebihi harapan orang yang meminta. Sebagai contohnya adalah : “Pada dasarnya semua manusia dalam keadaan bodoh, faqir dan lemah. Sebetulnya masalah pakaian, seseorang hanya butuh satu atau dua saja. Akan tetapi Allah Ta’ala memberi melebihi dari harapan yang dia inginkan, sehingga manusia memiliki pakaian yang banyak. Begitu juga dengan hal-hal yang lain”. Kenapa kita masih ragu dengan janji-janji Allah? Janji-janji Allah terkadang kita identikkan dengan dunia. Sebagai contohnya janji Allah yang tercantum dalam surat At Thalaaq (65) ayat : 2,3 (Barang siapa yang bertaqwa akan diberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka dan barang siapa yang bertawakkal akan dicukupkan segala keperluannya). Dan janji Allah disurat Ibrahim (14) ayat : 7 “Barang siapa yang bersyukur akan ditambah nikmat dan barang siapa yang kufur sesungguhnya azab Allah sangat pedih”. Yang dimaksud Allah akan memberi atau menambah rizki adalah agar bertambah ketaqwaannya (amalnya) bukan untuk kepuasan hawa nafsu (duniawi) Dan apabila janji-janji Allah tidak terbukti (berlaku) pada diri kita berarti kita termasuk orang yang dzolim (selalu mengikuti nafsu). Sesuai surat Al Baqarah (2) : 124 124. Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim". A. Sisi Tafakkurnya Seberapa besar keyakinan kita terhadap janji-janji Allah Ta’ala, berupa rahmat (nikmat), atau janji-janji Allah Ta'ala berupa ancaman kepada orang-orang kafir, yang membuat kita menjadi yakin bahwa janji-janji Allah Ta'ala itu pasti akan terjadi? Dan seberapa besar keyakinan kita tentang pemberian Allah Ta'ala terhadap kita, bahwasannya Allah Ta'ala memberikan kepada kita melebihi harapan yang kita minta? Akan tetapi janji-janji Allah Ta'ala itu sering kali belum terkabul, disebabkan karena Allah Ta'ala telah berfirman : Penuhi dulu janjimu kepadaku, niscaya Kupenuhi janji-Ku kepadamu”. Terkadang kita hanya menuntut janji Allah Ta'ala, sedangkan janji kita kepada-Nya tidak pernah kita penuhi, yaitu tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang tidak pernah ragu dengan janji-janjiMu dan selalu merasa puas dengan apa yang Engkau berikan kepada kami. C. Sikap Orang Beriman Orang-orang yang beriman sangat yakin dengan janji-janji Allah Ta’ala, karena Allah Ta'ala tidak pernah ingkar janji. Bahwasannya orang-orang yang beriman dan bertaqwa pasti akan masuk syurga, sedangkan orang-orang fasik, kafir, musyrik dan munafiq pasti akan masuk neraka. D. Sikap Orang Bertaqwa Orang-orang yang bertaqwa akan selalu berusaha untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang hamba dengan sebaik-baiknya dan berusaha untuk menepati janji-janjinya kepada Allah Ta'ala. Karena Allah Ta'ala akan menepati janji-Nya apabila hamba-hambaNya juga menepati janjinya. Sesuai surat Al Baqarah (2) : 40 40. Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu. Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu. Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). Sebetulnya kita memiliki janji-janji kepada Allah Ta'ala yang harus kita tepati. Seperti janji kita bahwa tidak ada Tuhan yang dapat memberikan manfaat dan mudhorat kecuali hanya Allah Ta'ala dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. (Syahadat). Dan janji kita pada saat sholat yaitu “Inna Sholati, Wanusuki, Wamahyaaya, Wamamaati, Lillahi Robbil ‘Alamiin (Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata hanya bagi Allah Tuhan semesta alam)”. Oleh sebab itu hendaknya kita selalu bertanya pada diri sendiri : “Apa yang sudah kita lakukan untuk Allah Ta'ala?”. Sudahkah kita meng-Esakan Allah Ta'ala dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun? Sudahkah sholat dan ibadah-ibadah kita yang lain benar-benar kita lakukan karena Allah Ta'ala? Sudahkah hidup dan mati kita semata-mata hanya bagi Allah Ta'ala? E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, bantulah kami agar kami dapat mempergunakan pemberian-pemberianMu untuk menambah amal ibadah kami, amal sholeh kami dan ketaqwaan kami kepada-Mu. F. Sikap Orang Bertawakkal Apabila dia telah memenuhi janji-janjinya kepada Allah Ta'ala, yaitu janji hanya bertuhankan Allah Ta'ala dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, janji hanya bernabikan Nabi Muhammad SAW, janji akan bertaqwa kepada Allah Ta'ala dan janji-janji yang dia ikrarkan didalam sholat, maka masalah hasilnya dia serahkan sepenuhnya kepada Allah Ta'ala. Dan orang-orang bertawakkal tidak pernah tamak (berharap) kepada manusia. Dengan kata lain dia tidak pernah menanyakan tentang janji-janji Allah Ta'ala. Yang penting dia telah melaksanakan tugasnya sebagai seorang hamba dengan sebaik-baiknya dan telah memenuhi janji-janjinya, sedangkan masalah janji-janji Allah Ta'ala dia serahkan sepenuhnya kepada Allah Ta'ala. Karena dia yakin bahwa Allah Ta'ala tidak pernah mengingkari janji. G. Sikap Orang Mukhlis Apapun yang diberikan oleh Allah Ta'ala kepadanya, dia terima dengan ikhlas. Dan apabila Allah Ta'ala belum memenuhi janji-Nya didunia, dia juga menerimanya dengan ikhlas. Sedikitpun dia tidak berburuk sangka kepada Allah Ta'ala, karena dia menyadari bahwa dirinya belum bisa memenuhi janjinya kepada Allah Ta'ala secara maksimal. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Karim Apabila sudah menjadi kholifah, maka ia tidak pernah ragu dengan janji-janji Allah Ta’ala, dan ia akan merasakan betul bahwa apa yang diberikan Allah Ta’ala kepadanya melebihi harapan yang ia minta. Kemudian terhadap sesama manusia, ia selalu menepati janji-janjinya serta tidak pernah menolak orang-orang yang meminta kepadanya. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Karim Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu untuk memenuhi janji-janji kami kepada manusia serta memberikan kepada mereka melebihi harapan yang mereka inginkan. Agar mereka dapat melihat bahwa sesungguhnya Engkau tidak pernah mengingkai janji dan memberikan segala sesuatu kepada manusia melebihi harapan orang-orang yang memintanya.